Jakarta || Gardatipikornews.com -- Setiap tahun Ramadan datang membawa pesan yang sama, namun selalu terasa baru. Ia adalah tamu agung yang tidak pernah hadir dengan tangan kosong. Di dalamnya terlipat kesempatan memperbaiki diri, memperhalus hati, dan merapikan hidup yang mungkin selama sebelas bulan terakhir kita biarkan kusut. Tahun ini, Ramadan 1447 H kembali mengetuk pintu kita, dan pertanyaannya sederhana, apa yang akan kita lakukan dengan kedatangannya?
Dalam situasi bangsa yang penuh hiruk-pikuk, dari persoalan ekonomi hingga persoalan sosial yang acap melelahkan, Ramadan hadir sebagai ruang hening. Sebuah jeda spiritual yang mengingatkan bahwa hidup bukan hanya soal mengejar, tetapi juga soal menyerahkan. Di sinilah letak pentingnya syukur, ikhlas, dan gembira sebagai sikap dasar dalam menyambut bulan suci ini.
Syukur, karena tidak semua diberi usia, kesehatan, dan kesempatan untuk kembali bertemu Ramadan. Syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah”, melainkan kesadaran bahwa segala yang kita miliki, rezeki, keluarga, waktu, dan bahkan masalah, adalah amanah yang bisa menjadi jalan menuju kedewasaan spiritual.
Kemudian ikhlas. Bulan Ramadan mengajarkan bahwa ibadah terdalam justru terjadi saat tidak ada mata manusia yang melihat. Lapar yang kita tahan bukan pertunjukan, tetapi dialog sunyi antara hamba dan Tuhannya. Ikhlas menata ulang niat kita, apakah puasa kita sekadar menggugurkan kewajiban, atau benar-benar ingin menjadi pribadi yang lebih teduh, lebih rendah hati, dan lebih jernih dalam memandang hidup?
Dan tentu saja gembira. Rasulullah mengajarkan bahwa umatnya dianjurkan menyambut Ramadan dengan perasaan senang, bukan mengeluh atau menganggapnya beban. Gembira karena bulan ini penuh rahmat, bulan ketika amalan dilipatgandakan, doa diangkat, dan pintu-pintu langit dibuka selebar-lebarnya. Kegembiraan ini bukan pesta, tetapi suasana hati yang lapang dan penuh harapan.
Namun, Ramadan juga mengingatkan bahwa kebajikan tidak berhenti pada hal-hal yang bersifat ritual. Ia harus turun ke tanah, menjadi sikap sosial. Menahan lapar di siang hari seharusnya mengasah empati terhadap mereka yang setiap hari hidup dengan perut kosong. Tarawih dan tilawah sepatutnya melahirkan akhlak yang lebih lembut, bukan kemarahan yang mudah meledak. Ramadan 1447 H seharusnya membuat kita lebih peduli, bukan lebih sibuk menilai ibadah orang lain.
Tajuk ini mengajak kita semua, pejabat maupun rakyat, guru maupun murid, pendakwah maupun pendengar, untuk menjadikan Ramadan sebagai cermin diri. Apakah kita semakin bersyukur? Apakah kita semakin ikhlas? Apakah hati kita semakin penuh kegembiraan yang menenangkan, bukan kegaduhan yang memecah?
Mari sambut Ramadan 1447 H dengan langkah yang ringan, hati yang bersih, dan pikiran yang jernih. Kita tidak tahu apakah kita akan bertemu Ramadan berikutnya. Yang kita tahu, Ramadan kali ini adalah kesempatan terbaik yang ada di depan mata.
Selamat datang, bulan suci.
Selamat datang, rahmat dan ampunan.
Semoga kita semua dipertemukan, dipeluk, dan diubah menjadi manusia yang lebih baik. Aamiin.
Penulis : Ikin Roki'in Ketum DPP PPRI
( @Red@ksi.gtn.com**