Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles
GTN Ragam - GTN Daerah - GTN Nasional - GTN Headline - GTN Kepolisian & TNI - GTN Pemerintahan - GTN Hukum & Kriminal - GTN Keagamaan - GTN Kesehatan - GTN Berita - Berita - GTN Olahraga - GTN Politik - GTN Kecelakaan - GTN Internasional - GTN Pariwisata - GTN Ekonomi - GTN Sosial - GTN Bencana Alam - GTN Entertainment - GTN Pendidikan - GTN Sepak Bola - GTN Video - GTN Otomotif - Artikel - Jurnal Nasional - GTN Nasional - GTN Headline - GTN Hukum - GTN Berita
Weather Widget for Website by cuacalab.id

Deep Teaching Sang Gubernur: Pedagogi Keterampilan Bertanya

by Gardatipikornews.com
01 November 2025 - 129 Views

Sukabumi, Jawa Barat || Gardatipikornews.com --  Di tengah perdebatan akademis seputar kurikulum, teknologi pembelajaran, dan perubahan pendidikan nasional, ada satu praktik pembelajaran yang hidup di tengah masyarakat, tumbuh dari budaya lokal, dan berbasis pada pengalaman nyata: praktik pendidikan humanis yang dijalankan oleh Kang Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat yang dikenal luas karena interaksinya yang menyentuh hati dengan masyarakat kecil.

Melalui tayangan-tayangan media sosialnya, KDM bukan hanya hadir sebagai pejabat atau tokoh publik, melainkan sebagai seorang pendidik sosial yang menjalankan praktik deep teaching—pengajaran yang menyentuh dimensi terdalam dari kesadaran, kemanusiaan, dan transformasi sosial.

Salah satu kekuatan utama dalam pendekatan ini adalah keterampilan bertanya yang dilakukannya secara reflektif, empatik, dan penuh makna. Lewat video-videonya yang viral di media sosial, kita menyaksikan bagaimana KDM hadir bukan sebagai pejabat yang memberi, melainkan sebagai manusia yang bertanya—dengan empati, dengan kasih, dan dengan keberanian untuk membuka luka-luka sosial yang sering tak terlihat.

Pendidikan Lewat Pertanyaan : 

Kang Dedi tidak mengajar di kelas, tapi ia menghidupkan ruang belajar di jalanan, di rumah-rumah reot, di pasar, dan di desa-desa yang terpinggirkan. Dalam setiap interaksinya, ia menggunakan keterampilan bertanya sebagai alat pendidikan. Ketika ia bertemu anak punk, pengemis, lansia terlantar, atau remaja putus sekolah, ia tidak langsung menasihati atau menyalahkan. Ia justru bertanya: “Kenapa kamu hidup seperti ini?”, “Apa yang kamu impikan?”, “Apa yang kamu takutkan?” atau "Apa yang membuatmu bertahan?"

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan basa-basi, melainkan jendela yang membuka percakapan bermakna. Pertanyaan dalam konteks ini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian dari proses pedagogis. Dalam praktik Kang Dedi, bertanya adalah cara untuk menggugah kesadaran, menumbuhkan refleksi diri, dan membangun kembali harapan.

Kang Dedi menjalankan fungsi pendidik tanpa papan tulis, tanpa kurikulum baku, dan tanpa ruang kelas formal. Ia menjadikan ruang publik sebagai laboratorium pendidikan. Jalan-jalan, pasar, kolong jembatan, dan rumah-rumah warga menjadi tempat belajar yang penuh makna. Ia membuktikan bahwa pendidikan yang membebaskan dapat dimulai dari percakapan yang tulus dan mendalam.

" Tidak ada pendidikan tanpa cinta dan dialog.”

Apa yang dilakukan Kang Dedi sangat sejalan dengan pemikiran Paulo Freire, filsuf pendidikan asal Brasil yang memperkenalkan gagasan pendidikan sebagai praktik pembebasan. Dalam karya monumental Pedagogy of the Oppressed, Freire menolak pendidikan gaya “bank” di mana murid hanya dianggap sebagai wadah kosong yang harus diisi pengetahuan oleh guru. Sebaliknya, Freire menawarkan pendidikan sebagai dialog, di mana proses belajar adalah perjumpaan antarmanusia yang saling menghidupkan. “Dialog,” tulis Freire, “adalah pertemuan antara manusia yang dimediasi oleh dunia untuk menamai dunia.” (Freire, 1970).

Dialog inilah yang dilakukan Kang Dedi dalam setiap perjumpaannya dengan rakyat kecil. Ia hadir bukan sebagai ‘guru’ yang serba tahu, tetapi sebagai sesama manusia yang ingin memahami. Ia menggunakan pertanyaan sebagai cara untuk membebaskan. Dalam interaksi tersebut, masyarakat diajak menemukan potensi, harapan, dan identitas dirinya yang mungkin telah lama tertimbun.

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya adalah bentuk paling mendalam dari proses pendidikan. KDM melakukannya dengan penuh cinta—bukan dalam bentuk romantis, melainkan dalam bentuk kehadiran sosial yang tulus dan egaliter.

Intelektual Organik

“intelektual organik”—yakni mereka yang lahir dari rakyat dan menjadi penyambung kesadaran kelas tertindas. KDM adalah figur langka yang mampu menjalankan peran itu dengan bahasa rakyat, bukan jargon akademik. Menurut Gramsci, intelektual tidak selalu harus akademisi. Mereka yang mampu mengartikulasikan pengalaman dan kesadaran masyarakat dari dalam komunitasnya sendiri juga layak disebut intelektual.

Kang Dedi adalah contoh intelektual organik masa kini. Ia tumbuh dari pengalaman sebagai anak petani dan kemudian menjadi pemimpin daerah yang tetap membumi. Ia menggunakan bahasa rakyat, cara berpikir rakyat, dan menyuarakan keresahan yang dirasakan oleh masyarakat kecil. Dengan pertanyaan-pertanyaannya yang reflektif, ia membangkitkan kesadaran kritis warga tentang pilihan hidup, nilai kerja keras, dan harga diri.

Kang Dedi tidak sekadar memberi bantuan sosial. Ia hadir untuk memulihkan kembali relasi antar manusia yang adil dan bermartabat. Dalam konteks pendidikan kritis, ia menjalankan peran strategis dalam memulihkan subjek dari keterasingan sosial.

Kang Dedi tidak sekadar memberi bantuan sosial. Ia hadir untuk memulihkan kembali relasi antar manusia yang adil dan bermartabat. Dalam konteks pendidikan kritis, ia menjalankan peran strategis dalam memulihkan subjek dari keterasingan sosial.

Pendidikan yang Tulus

Dalam pandangan Leo Tolstoy, pendidikan yang sejati tidak datang dari luar, melainkan dari dalam. Dalam esainya Education and Culture, Tolstoy menyatakan bahwa pendidikan terbaik adalah yang bersumber dari hati dan pengalaman manusia itu sendiri. Ia menolak pendidikan yang otoriter dan kaku, dan lebih memilih pendekatan yang penuh kasih sayang, kesetaraan, dan keteladanan. Apa yang dilakukan KDM mencerminkan nilai-nilai ini. Ia mendekati masyarakat bukan dengan kekuasaan, tetapi dengan ketulusan. Ia hadir, mendengar, dan bertanya bukan untuk menilai, tetapi untuk memahami. Ia mendidik dengan kehadiran dan cinta. Pendidikan dalam konteks ini bukan instruksi, melainkan relasi.

Filsuf pendidikan progresif asal Amerika, John Dewey, pernah menulis bahwa “Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup; pendidikan adalah hidup itu sendiri.” (Dewey, 1916). Dewey menekankan pentingnya pengalaman sebagai basis pembelajaran, dan menolak pembelajaran yang terlepas dari konteks sosial dan budaya.

Pendekatan Kang Dedi dalam pendidikan jalanan sangat relevan dengan gagasan Dewey. Ia mengajak masyarakat belajar dari pengalamannya sendiri. Ia tidak membawa teori ke lapangan, tetapi menjadikan lapangan sebagai sumber teori. Ketika ia bertanya kepada seorang pemulung tentang perjuangan hidupnya, lalu menawarkan alternatif hidup yang lebih manusiawi, ia sedang menjalankan proses pendidikan yang bertumpu pada pengalaman, refleksi, dan aksi.

Kurikulum Humanis

Di era digital, pendidikan dituntut untuk mampu membekali manusia dengan keterampilan yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Joseph E. Aoun, rektor Northeastern University, memperkenalkan konsep robot-proof education. Ia menyebut bahwa selain literasi data dan teknologi, manusia juga perlu memiliki human literacy—yakni empati, etika, dan kemampuan berinteraksi antar manusia.

Kang Dedi, tanpa disadari, sedang memperkuat human literacy ini. Ia menggunakan media sosial bukan untuk pencitraan, melainkan untuk menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan. Di tengah dunia yang makin digital dan terpolarisasi, ia menyuguhkan konten edukatif berbasis empati dan kesadaran sosial. Ini adalah pendidikan masa depan yang tak lekang oleh mesin.

Yang lebih unik lagi, Kang Dedi mengakar kuat pada nilai-nilai budaya Sunda seperti silih asah, silih asih, silih asuh. Tiga nilai luhur ini menjadi fondasi dalam pendekatannya terhadap masyarakat. Silih asah berarti saling mempertajam potensi, silih asih berarti berempati saling mengasihi, dan silih asuh berarti saling merawat dan melindungi.

Prinsip-prinsip ini hidup dalam setiap interaksi Kang Dedi. Ia mengasah potensi anak muda, mengasihi warga miskin, dan mengasuh lansia terlantar. Nilai-nilai lokal ini memberi warna khas pada pendekatan deep teaching-nya. Ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak harus terlepas dari kearifan lokal, bahkan justru harus tumbuh dari tanah budaya tempat ia berpijak.

Dari praktik Kang Dedi, kita belajar bahwa pendidikan tidak melulu soal institusi atau kurikulum. Pendidikan adalah gerakan sosial untuk membebaskan manusia dari ketidakberdayaan. Pendidikan adalah kehadiran yang tulus dan dialog yang jujur. Pendidikan adalah pertanyaan yang menumbuhkan harapan dan keberanian untuk berubah.

Di tengah dunia yang sering kali menyempitkan pendidikan dalam ruang-ruang kelas dan angka-angka ujian, Kang Dedi menghadirkan alternatif: pendidikan yang membumi, memanusiakan, dan memberdayakan. Pendidikan yang tidak menciptakan ketergantungan, tetapi menumbuhkan kemandirian dan kepercayaan diri.

Saatnya Belajar dari Rakyat

Kita tidak sedang mengatakan bahwa semua pendidikan harus seperti Kang Dedi. Namun dalam situasi di mana pendidikan kita sering terputus dari realitas sosial, kita dapat banyak belajar dari pendekatan ini. Bahwa pendidikan dapat sederhana namun mendalam.

Kita butuh lebih banyak “guru kehidupan” seperti Kang Dedi: pemimpin yang tidak sekadar mengatur, tetapi juga mendidik; yang tidak menggurui, tapi menggugah. Dalam dunia yang penuh kebisingan dan kekerasan simbolik, praktik bertanya KDM menjadi bentuk deep teaching yang membangkitkan kesadaran, mengembalikan kemanusiaan, dan memperkuat daya hidup masyarakat kecil.

Di titik inilah kita belajar, bahwa pertanyaan yang tulus lebih berdaya dari seribu teori. Dan bahwa pendidikan yang membebaskan dapat dimulai dari satu hal sederhana: keberanian untuk bertanya dengan hati. Seperti yang KDM sering katakan, bahwa “Apa yang diucapkan dengan lisan hanya dapat didengar oleh telinga, sedangkan yang disampaikan oleh hati, mampu menggetarkan rasa.”

Lalu, seberapa sering kita—sebagai pendidik, pemimpin, atau anggota masyarakat—berani bertanya dengan tulus, tidak untuk menghakimi, tetapi untuk memahami dan membebaskan?. 

Oleh : Dyah Lyesmaya (Dosen Magister Pedagogi Universitas Nusa Putra, Sukabumi). 

( @sp. R., C.EJ.,C.BJ Red**


Sebelumnya
Santunan Yatim Disalurkan Kepala Desa Parigi Mekar Ade Syaprudin Didampingi H. M. Ma'mun, Ket. TP....
Selanjutnya
Soegiharto Santoso: Kelemahan Fatal Keterangan Ahli Penggugat Dalam Perkara APKOMINDO Di PTUN...

Berita Terkait :