Pelabuhanratu, Jawa Barat|| Gardatipikornews.com -- Tak kalah pentingnya SMK PGRI Palabuhanratu kabupaten Sukabumi sebagai salah satu sekolah yang Legendaris tepatnya tanggal 18 Januari 2026 telah berkiprah selama 50 Tahun, tetap konsisten memiliki strategi khusus untuk menjaga agar kearifan lokal tetap hidup di tengah gempuran budaya modern.
Belum lama ini dari perwakilan SMK PGRI Palabuhanratu mengikuti Kejuaraan Pasanggiri Pencak Silat Medal Wangi Cup tahun 2026 meraih juara Kategori Tunggal Putra Juara 1 dan 2 yang di selenggarakan oleh PPSI kabupaten Sukabumi.
Menurut Ujang Supriatin selaku Kepala SMK PGRI Palabuhanratu, walau belum berhasil menjadi Juara umum minimal ada keinginan untuk terus mengembangkan kearifan lokal budaya yang bisa mengembangkan sampai Kejuaraan ke tingkat Propinsi
dibawah kepemimpinan baru SMK PGRI Palabuhanratu sebagai salah satu Tokoh Budaya kabupaten Sukabumi UJANG SUPRIATIN memiliki ciri khas yang berbeda, bagaimana SMK PGRI Palabuhanratu tetap bisa menjadi prioritas masyarakat dalam menumbuh kembangkan segala bentuk keinginan yang menjadi Primadona dalam bentuk kegiatan kesenian dan budaya.
Sebagai salah satu upaya yang akan dan sedang di lakukan
1. Implementasi Program "Hari Basa Indung"
Mengikuti kebijakan di Kabupaten Sukabumi, sekolah umumnya menerapkan satu hari khusus (biasanya Kamis) sebagai hari budaya:
Penggunaan Bahasa Sunda: Siswa dan guru diwajibkan berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda yang baik dan benar (Lemes) di lingkungan sekolah.
2. Integrasi Seni Tradisional dalam Ekstrakurikuler sekolah menjadikan seni budaya bukan hanya materi di kelas, tapi praktik langsung melalui ekskul Pencak Silat.
Ujang Supriatin ingin Menghidupkan kembali
Pencak Silat: Sebagai seni bela diri asli Nusantara, silat sering menjadi ekskul unggulan untuk melatih disiplin sekaligus melestarikan budaya fisik.
3. Partisipasi dalam Event Budaya Lokal di Palabuhanratu yang memiliki ciri khas SMK PGRI Palabuhanratu kaya akan tradisi seperti Hari Nelayan atau perayaan hari jadi kabupaten. SMK PGRI biasanya berkontribusi dalam event kegiatan budaya Pencak silat diantara kamonesan Debus Tradisi dan Ibing Pencak Silat.
4. Pendidikan Karakter Berbasis Filosofi Sunda
Nilai-nilai lokal disisipkan dalam keseharian untuk membentuk etika siswa, seperti:
Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh: Prinsip saling mencerdaskan, menyayangi, dan membimbing antar sesama siswa.
Tata Krama (Someah): Menekankan sikap sopan santun kepada guru dan sesama, yang merupakan ciri khas masyarakat Jawa Barat.
( @Gon GTN**